Science Corporation Uji Implan Retina PRIMA pada Pasien Penyakit Stargardt

Science Corporation mencatat perkembangan penting dalam dunia teknologi medis setelah menguji implan retina PRIMA pada pasien dengan penyakit Stargardt, yaitu kelainan mata genetik yang menyebabkan penurunan penglihatan sentral secara bertahap. Perusahaan neuroteknologi tersebut mengungkapkan pada 13 Oktober 2026 bahwa pasien pertama telah menerima implan pada Mei 2026 melalui penelitian klinis di Sydney Eye Hospital, Australia. Hasil rehabilitasi awal menunjukkan pasien mampu mengenali huruf dan kemudian membaca sebuah kata menggunakan bantuan perangkat tersebut. Meski masih berada dalam tahap penelitian, inovasi ini membuka peluang baru untuk membantu penderita gangguan retina memperoleh kembali sebagian kemampuan penglihatan.
Terobosan Teknologi Implan Mata dalam Penelitian Penyakit Stargardt
Kemajuan neuroteknologi modern terus menghadirkan peluang baru bagi masyarakat dengan keterbatasan fungsi visual. Inovasi yang sedang diteliti diperkenalkan melalui penelitian Science Corporation, perusahaan neuroteknologi yang meneliti sistem implan retina bernama PRIMA. Teknologi implan ini dirancang untuk membantu pasien yang memiliki gangguan penglihatan pusat akibat penurunan fungsi sel penerima cahaya. Pada tahap pengembangan terkini, Science Corporation mulai mengevaluasi penggunaan PRIMA pada penderita penyakit Stargardt, setelah sebelumnya meneliti teknologi tersebut untuk gangguan makula akibat penuaan. Langkah ini menjadi bagian penting dalam penelitian prostesis penglihatan.
Pengembang PRIMA mengungkapkan bahwa pasien pertama dengan Stargardt mengikuti prosedur pemasangan implan pada Mei 2026 di Sydney Eye Hospital, Australia. Informasi tersebut disampaikan pada 13 Oktober 2026 ketika CEO Science Corporation, Max Hodak, memaparkan hasil penelitian awal dalam acara TechCrunch Disrupt. Mengacu pada perkembangan rehabilitasi pasien, penerima implan berhasil melihat sebuah huruf pada sesi rehabilitasi pertama. Selanjutnya, pasien mampu membaca sebuah kata dalam sesi rehabilitasi kedua. Kendati kemampuan tersebut memberikan harapan, pengamatan awal belum cukup untuk memastikan efektivitas umum. Oleh sebab itu, penelitian lanjutan tetap diperlukan.
Penyebab serta Gejala Penyakit Retina Stargardt
Penyakit Stargardt merupakan gangguan penglihatan akibat faktor genetik yang umumnya menyerang bagian makula, yaitu wilayah jaringan retina yang diperlukan untuk penglihatan bagian tengah dengan ketelitian tinggi. Makula membantu seseorang mengenali huruf, mengidentifikasi detail wajah, dan melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian. Apabila fungsi makula menurun, penglihatan sentral berpotensi memburuk. Tanda gangguan tersebut sering berkembang secara bertahap, meskipun tingkat keparahannya berbeda antarindividu. Mengingat penyakit ini berkaitan dengan keturunan, Stargardt bukan akibat langsung menatap layar komputer.
Faktor genetik yang sering ditemukan adalah variasi patogen pada gen ABCA4. Bagian materi genetik ini berperan dalam proses pengelolaan senyawa terkait siklus visual. Apabila terjadi perubahan yang merusak aktivitasnya, senyawa tertentu dapat terakumulasi dalam jaringan retina. Kondisi tersebut dapat merusak sel-sel retina secara perlahan. Pada sebagian pasien, kemampuan melihat area samping tetap relatif baik, walaupun penglihatan pusat mengalami penurunan. Karakteristik gangguan ini menjadi alasan penting pengembangan PRIMA yang ditujukan untuk menggantikan sebagian fungsi visual di makula.
Mekanisme Kacamata Berkamera dan Implan Retina PRIMA
Sistem prostesis retina PRIMA menggabungkan chip fotovoltaik berukuran kecil dan perangkat optik dengan kamera terintegrasi. Komponen implan tersebut diimplantasikan pada bagian belakang mata melalui tindakan bedah retina. Pada mekanisme kerjanya, kamera yang terintegrasi dengan kacamata khusus mengambil citra objek yang dilihat. Data gambar yang diperoleh kemudian diterjemahkan oleh komponen komputasi sebelum diteruskan sebagai pola cahaya ke implan. Chip fotovoltaik selanjutnya menggunakan sinyal optik untuk membentuk aktivitas listrik guna mengaktifkan neuron retina yang tersisa.
Sebagai bentuk penglihatan buatan, hasil yang diberikan melalui implan tersebut masih berbeda dari persepsi visual alami. Berdasarkan keterangan Science Corporation, chip yang digunakan pada pasien Stargardt berukuran sekitar 2 x 2 milimeter. Luas komponen implan tersebut menghasilkan cakupan visual yang relatif sempit. Sistem tersebut memberikan persepsi visual tanpa warna yang dapat digunakan untuk membaca karakter terbatas. Berdasarkan kemampuan yang telah dilaporkan, seseorang dapat melihat beberapa huruf dalam satu waktu. Dengan demikian, implan tidak mengembalikan seluruh fungsi visual.
Hasil Awal Pengujian PRIMA dan Perkembangan Penelitian Klinis
Pengujian implan pada penderita Stargardt dilaksanakan melalui penelitian PRIMAlia yang dirancang mengevaluasi manfaat dan risiko teknologi tersebut pada penyakit retina herediter. Penelitian ini mencakup kondisi seperti Stargardt dan penyakit retinitis pigmentosa. Menurut keterangan penelitian yang terdaftar, PRIMAlia dirancang melibatkan sekitar lima pasien. Partisipan yang dinyatakan sesuai akan menjalani pemeriksaan penglihatan berkala untuk menilai perubahan setelah implantasi. Penilaian tersebut penting untuk memastikan manfaat serta keterbatasan teknologi.
Hasil yang dilaporkan pada pasien pertama menunjukkan potensi manfaat karena pasien mampu mengenali huruf pada rehabilitasi pertama dan mengenali kata sederhana pada sesi berikutnya. Kendati hasilnya belum menyerupai penglihatan normal, perkembangan ini menjadi pengamatan relevan bagi penelitian rehabilitasi penglihatan. Dalam kondisi degenerasi fotoreseptor pusat, kemampuan mengenali karakter dapat menjadi indikator respons terhadap stimulasi. Walaupun hasil awal menjanjikan, kesimpulan mengenai efektivitas memerlukan data tambahan. Kemungkinan efek samping implantasi, keandalan sistem dalam jangka panjang, dan manfaat dalam aktivitas harian tetap harus dipantau.
Tantangan Pengembangan Implan Retina hingga Dapat Digunakan Lebih Luas
Sebelum diterapkan pada Stargardt, PRIMA pernah diuji secara klinis untuk geographic atrophy akibat age-related macular degeneration. Melalui penelitian klinis dengan 38 penerima implan, sebanyak 32 peserta menjalani penilaian pada bulan kedua belas. Dari kelompok dengan data evaluasi lengkap, sebanyak 26 orang atau sekitar 81 persen menunjukkan peningkatan ketajaman penglihatan yang bermakna secara klinis. Hasil tersebut memperlihatkan kemungkinan manfaat prostesis retina. Akan tetapi, hasil pada pasien AMD tidak dapat langsung dianggap berlaku untuk Stargardt. Variasi kondisi retina pasien membutuhkan evaluasi tersendiri dalam penelitian berikutnya.
Pengembangan implan retina juga menghadapi berbagai hambatan teknis sebelum menjadi pilihan penanganan rutin. Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian kondisi retina pasien. Sistem tersebut membutuhkan jaringan retina yang dapat merespons stimulasi agar sinyal buatan berpotensi diterjemahkan menjadi pengalaman melihat. Tidak hanya mempertimbangkan kondisi mata, proses adaptasi setelah implantasi tetap diperlukan untuk mempelajari cara memahami citra buatan. Oleh sebab itu, keberhasilan teknologi tidak hanya ditentukan oleh operasi, tetapi juga dipengaruhi kemampuan adaptasi pasien.
Peran Neuroteknologi dalam Menghubungkan Perangkat Elektronik dan Sistem Saraf
Perusahaan neuroteknologi tersebut menempatkan penelitian retina dalam cakupan brain-computer interface atau BCI, yaitu teknologi yang menghubungkan sistem elektronik dengan aktivitas saraf. Berdasarkan pandangan pimpinan Science Corporation, retina merupakan bagian dari sistem saraf pusat. Dengan pemahaman tersebut, implan retina dapat dipahami sebagai penerapan teknologi penghubung elektronik dan saraf. Sebagai pendekatan dengan tujuan khusus, PRIMA bertujuan membantu fungsi penglihatan. Rancangan neuroteknologi semacam ini memperlihatkan luasnya penerapan BCI.
Untuk pengembangan masa depan, pengembangan neuroteknologi medis diharapkan mendukung berbagai kebutuhan rehabilitasi. Contoh perangkat yang telah dikenal adalah implan koklea yang membantu sebagian penderita gangguan pendengaran. Implan retina PRIMA menerapkan teknologi elektronik pada fungsi penglihatan. Meskipun berada dalam kelompok teknologi terkait, hasil klinis masing-masing teknologi tidak dapat disamakan. Untuk pengembangan yang bertanggung jawab, uji klinis yang ketat merupakan kebutuhan mendasar sebelum perangkat dapat digunakan sebagai penanganan rutin.
Masa Depan Pemulihan Penglihatan dengan Implan Retina PRIMA
Perkembangan prostesis retina dari Science Corporation pada pasien penyakit Stargardt memperlihatkan perkembangan menarik dalam penelitian neuroteknologi. Berkat integrasi implan elektronik dan teknologi pemrosesan visual, PRIMA dirancang untuk memberikan kemampuan melihat terbatas. Kemampuan visual yang dilaporkan dalam pengujian awal menjadi dasar bagi evaluasi klinis berikutnya, tetapi masih membutuhkan konfirmasi melalui data tambahan. Melalui evaluasi medis yang lebih luas, keamanan dan efektivitasnya dapat dievaluasi secara lebih lengkap. Seberapa besar potensi menurut Anda dari pengembangan penglihatan buatan melalui neuroteknologi? Mari sampaikan pandangan Anda mengenai pengembangan perangkat elektronik untuk membantu fungsi penglihatan.








